COVID-19 SERTA DAMPAKNYA DI KEHIDUPANKU



Hasil gambar untuk covid 19
(sumber: bendoregon.gov)


Mungkin banyak dari sekian juta orang di muka bumi ini yang takut dan cemas akan penyakt yang melanda bumi kita tercinta ini. Salah satunya aku. Memang aku bukan satu-satunya yang takut akan virus ini, namun aku sangat mengkhawatirkan bagaimana Ayahku di luar sana. Saat semua orang memutuskan untuk berdiam di rumah mereka selama beberapa hari, sedangkan ayahku harus bertahan hidup demi mencari sesuap nasi dari penghasilannya perhari.

Terkadang aku berpikir untuk ingin membantu ayah berdagang. Namun aku terlalu takut. Banyak yang aku takutkan, mulai dari takut pulang malam, takut bertemu orang, takut keluar dari zona nyaman, dan lain sebagainya.Aku juga berpikir untuk memutus rantai kemiskinan dari zaman ku. Aku ingin memulai menjadi seorang programmer atau data engineering  agar bisa mendapat cuan banyak.

Ibu ku menyetujui hal itu. Namun banyak kendala yang harus aku lalui. Seperti harus jauh dari orang tua, biaya bulanan yang semakin banyak, biaya laptop yang pasti tidak murah harganya. Aku hanya berharap agar Allah menyetujui rencana-rencanaku ini.

Okay, back to the topic

Mendengar headline dari sebuah berita membuatku sangat cemas. Pasalnya berita itu berbunyi seperti ini, "Pemerintah Memerkirakan Bahwa Ada 700.000 Orang Yang Diduga Terinfeksi Corona" atau "Ibu dari Yogya yang positif Corona mengaku pernah mengunjungi Tangerang". Sontak aku terkejut. Aku takut Ayahku kenapa-kenapa. Aku sudah menyarankan Ayah untuk tidak berdagang dahulu dalam beberapa hari ini, namun Ayah mengungkapkan bahwa ia tidak bisa melakukan itu. Ayah butuh pemasukan setiap harinya.

Terlebih beredar rumor bahwa puncak dari COVID-19 ini saat bulan Ramadhan. Yang artinya bulan Ramadhan adalah bulan dimana Ayah memiliki banyak pelaris pada saat itu. Apabila virus ini tetap ada dan berkembang biak sampai bulan Ramadhan, tidak ada lagi Tarawih yang akan di laksanakan di masjid-masjid, tidak boleh bersalam-salaman lagi saat lebaran, berkurangnya penghasilan Ayah sehingga membuat beliau tidak bisa membayar utang-utangnya.

Aku hanya ingin Ayah sehat jasmani dan rohaninya. Beliau adalah pahlawan di keluarga kami. Aku hanya ingin apabila ayah sehat jasmaninya, dia tetap ceria dan tidak pusing lagi memikirkan utang dan uang untuk keluarganya. Apalagi akhir-akhir ini Ayah lah yang sering mendirikan sholat dan menyuruh kami sholat, dimana pada beberapa  bulan yang lalu Ayah jarang melakukannya. And it's so much better than before.

Comments